Pesan dari Mbak Arleen :)
Akhirnya tumpukan buku pesananku dateng juga dari kutukutubuku.com. Asiiikkk!! Kutukutubuku, thank you banget yah dah ngumpulin pesanan buku-bukuku dari sana sini hehe J. Dari tumpukan itu, langsung kuambil buku yang sudah kutunggu-tunggu sejak terbitnya kemarin: Je M’apelle Lintang nya Ollie. (minggu kemarin waktu ke gramed padahal dah megang-megang tuh buku, untung keinget dah pesen di kutukutubuku).

Terus langsung elus-elus covernya yang baguuss (Ernes, hebat! Bukan cuma jago ilustrasi buku anak ternyata dikau ya!). Terus buka covernya, ngeliatin tanda tangan Ollie dengan tulisan: Dear Arleen, Hope you enjoy the book!

Well, Ollie, tanpa menunggu hari berganti lagi, pulang kantor (dan setelah main sama Alyssa, tentu J) langsung aja kulalap dan ku-enjoy Je M’apelle mu dan langsung kelar tadi malam, jadi pagi ini langsung nulis ini. I certainly did enjoy the book very much! Ringan, romantic, bikin kita kebawa dan jadi mikir lagi dan jadi percaya lagi bahwa love should win above all. What we call home, is not a geographical location on earth. Home is where our true love is. Dan Lintang sudah menemukan “home” nya sendiri.

Salut, Ollie, sebagai penggemar romantic story dan believer of true love, aku sukaaaa banget Je M’apelle mu! Dan aku emang percaya banget bahwa kiprahmu memang belum akan berakhir!

Salam manis,
Arleen
(penulis Don’t Think Just Love, Pacar Nomor Dua dan Delapan Semester Petak Umpet dengan Cinta)
posted by Ollie @ Monday, July 24, 2006 8:40 PM
Review from Ferina
Je M'appelle Lintang
Ollie
Media Kita, Cet. II - 2006
162 Hal.

Dari cover-nya, Ollie seolah sudah ‘menjanjikan’ bahwa novel ini bercerita tentang kisah cinta yang romantis. Dengan warna-warna lembut didominasi warna merah jambu dengan latar belakang Menara Eiffel semakin memperkuat keromantisannya.

Berawal di sebuah pesta pernikahan di Nembrala, NTT, seorang pria berkebangsaan Perancis yang sedang berlibur, Pierre, jatuh cinta pada gadis dari kota itu, Lintang. Tapi, tentu saja, meskipun dua-duanya saling suka, tidak begitu saja membuat hubungan percintaan mereka jadi lancar. Alasannya klise, latar belakang budaya membuat orang tua Lintang melarang Pierre menjaling hubungan dengan anak gadis mereka.

Perpisahan pun harus terjadi. Dua hati yang berjauhan, saling merindukan. Dan membuat seorang Lintang nekat pergi ke kota Paris untung mengejar mimpinya. Bermodalkan kemampuannya di bidang fashion design, Lintang mencoba mendapatkan beasiswa untuk belajar di sekolah mode di Paris. Beruntung akhirnya Lintang mendapatkan beasiswa itu.

Berada di kota yang sama dengan Pierre, ternyata tidak langsung membuat mereka mudah untuk bertemu kembali. Dan di sini, nih, ‘greget’ dari novel ini, kebetulan-kebetulan yang terjadi yang sebetulnya membuat Pierre dan Lintang sedikiiiittt lagi akan ketemu bisa membuat pembaca ‘menahan napas’ dan ‘merutuk’ kesal.

Lintang, ditemani oleh Jerry, sahabatnya dari satu kota yang kebetulan juga pergi ke Paris, tanpa putus asa berusaha menelusuri jejak Pierre.

Paris di musim gugur digambarkan begitu romantis. Kota yang selalu disebut-sebut sebagai kota cinta bisa membuat pembaca ikut terhanyut dalam cinta.

06.07.24

(sumber: http://ceritaceritaku.blogspot.com)
posted by Ollie @ 4:09 AM
About Me

Name: Ollie
Home: Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia
About Me: I'm a writer & entrepreneur. I believe in accelerating synchronicity. Grateful for always meeting the right person at the right time. Follow me on twitter @salsabeela and my journal http://salsabeela.com
See my complete profile
Previous Post
Archives
Shoutbox
Name :
Web URL :
Message :
Links
Another Book


Look I'm on Fire